Konsumerisme Hedonisme


Awal bulan seakan menjadi surga bagi setiap orang di negeri ini. Bagi pekerja yang biasa menerima upah gajinya di awal bulan. Di awal bulan mereka mendapatkan upah gaji dari hasil kerja mereka selama sebulan. Ketika suatu di suatu bulan , menjelang tanggal tua wajah mereka terlihat tertekuk memikirkan kantong kocek sudah menipis. Harus menunggu tiba datangnya bulan baru kocek mereka menebal kembali.
Awal bulan baru menjelang, wajah-wajah setiap orang yang memepunyai gaji tetap agak sedikit sumringah. Tiba datangnya tanggal muda di bulan yang baru, kantong kocek menebal kembali. Sejak itu, banyak keinginan ingin beli ini beli itu. Pusat perbelanjaan diserbu ketika masuknya awal bulan. Dengan dalih belanja kebutuhan sehari-hari selam sebulan. Ya, wajar membeli kebutuhan primer untuk hidup selama sebulan kedepan.

Namun, dalam pikiran terbesit “ah masih ada uang, mau beli.....”. Berbelanja berebihan. Mentang-mentang punya uang setelah gajian, seakan hari itu seperti menjadi hari yang melelahkan untuk belanja. Belanja hal yang tidak perlu. Belanja hal yang sangat menguras kocek padahal kebutuhannya tidak begitu mendesak.
Terlebih bagi kaum hawa, uang mereka habiskan memebeli barang-barang seperti tas, sepatu, baju, padahal bulan sebelumnya  mereka juga melakukan hal yang sama. Bahkan barang-barang yang mereka beli bulan sebelumya masih bagus tapi tida terpakai, hanya jadi penghias digantung di kamar atau pun di lemari. Alasan mereka sederhana “kan buat cadangan, jadi ada pilihan kalo mau pergi kemana-mana bisa gunta-ganti gak pake yang itu-itu aja”, atau “biarin kan buat koleksi”.
Setelah belanja menghabiskan kocek mereka , terasa lelah rasa lapar pun muncul. Di tempat perbelanjaan banyak sekali jajanan yang menggiurkn lidah mereka si ‘shopaholic’. Tidak tanggung-tanggung mereka jajan dengan kadar berlebih. Beranjak pulang ke rumah setelah seharian belanja, kantong-kantong yang mereka jinjing sangat banyak. Berbagai macam label toko menghiasai kantong-kantong yang dijinjing.
Di awal bulan , berbagi supermall, plaza atau pusat perbelanjn lainnya menjadi penuh dan sessak. Lahan parkir pun berdedesak-desakan berebut lahan untuk parkir dan merepotkan si tukang parkir (namun jadi rezeki tukang parkir). Di lihat dari lahan parkir yang ada, mobil-mobil “mentereng”. Mobil-mobil mewah menghisi tempat parkir  di mall-mall.
Hanya disayangkan sekali, ditengah kesibukan mereka berbelanja menghambur-hamburkan uang demi seseuatu barag yang tidak begitu dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari, masih terdapat mereka yang menjerit kelaparan tinggal di pemukiman yang kumuh di sudut kota. Kepedulian mereka terhadapa sesama lenyap hilang tertelan dengan gaya hidup mewah hedonisme dan konsumtif.
Mereka lupa bahwa masih ada sauadara-saudara kita yang justru tidak bisa menikmati hidup ini bahagia. “Luntang-lantung” di tengah kota tersisih oleh kaum hedonis yang hanya memimikirkan kesenagan pribadi tanpa memperduikan saudaranya yang menderita di kolong jembatan meratap kemiskinan. Hedonisme dan Konsumerisme ternyata sudah menjerat urat leher masyarakat bangsa ini. Setiap kali mereka mendaptkan uang di awal bulan, mereka habiskan dengan berfoya-foya seakan dunia ini menjadi miliknya. Bisakah mereka berhemat ? Bisakah mereka peduli ?
Kaum hedonis dan konsumtif juga sangat tidak mempedulikan lingkungan kita yang kian hari kian parah. Bumi yang dipijaknya setiap hari tidak tidak dirawa dengan baik. Setelah berfoya-foya , “menghedonkan diri” sampah bertumpukkan dimana-mana. Mereka berfikir “kan sudah ada tukang kebersihan. Kenapa harus kita ?”. Pantas saja, alam tidak menerima. Ketika tertimpa suatu bencana baru mereka sedih, menangis menagisi harta mereka yang lenyap ditelan bencana. Baru mereka sadar akan susahnya hidup seperti apa.

Menurut Anda bagaimana tentang fenomena seperti itu ? Pikirkan sendiri !!! (@adhimd)

Post a Comment

Instagram

ADHI.MD | Designed by Oddthemes | Distributed by Gooyaabi