Selama pandemi COVID-19 ini kamu pasti sudah familiar dengan istilah rapid test, swab test antigen dan PCR test. Yup, ketiga cara tersebut adalah cara untuk mengetahui ada atau tidaknya virus corona di dalam tubuh kita. Tapi, dari ketiga cara itu, memiliki tingkat akurasi yang berbeda-beda.
Nah, di artikel kali ini kita akan membahas mengenai teknologi PCR test. Apa sih PCR itu? Pasti kalian sudah pernah belajar dong mengenai PCR. Yup, materinya ada di pelajaran Biologi untuk kelas 12 di Bab Bioteknologi Sub-Bab PCR dan Elektroforesis.
PCR adalah singkatan dari bahasa Inggris yaitu Polymerase Chain Reaction. Jika diartikan satu per satu, Polymerase dari kata polimer (ada di materi biokimia) suatu senyawa besar, Reaction atau reaksi dan Chain adalah rantai.
Jadi PCR ini adalah aksi pembuatan polimer secara terus menerus atau berantai. Fungsinya adalah untuk melakukan amplifikasi atau memperbanyak DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) atau pun RNA (ribonucleic acid). Jadi PCR ini adalah replikasi DNA. Udah tahu dong materi tentang DNA dan RNA sebelumnya di kelas 12?
Di video akan dijelaskan mengenai bagaimana cara kerja kerja PCR ini untuk melakukan amplifikasi atau memperbanyak DNA atau RNA. Teknologi PCR ini based on replikasi DNA yang diambil DNA induknya. Kemudian setelah memperbanyak DNA-nya atau diamplifikasi menjadi banyak DNA.
Nah, di artikel ini akan membahas tentang apa saja yang fakta-fakta tentang PCR yang berguna dalam kehidupan sehari-hari khususnya untuk bidang kesehatan dan kedokteran. Berikut fakta-faktanya;
1. Mendiagnosa Penyakit dan Virus
Telah diketahui bersama dengan PCR bisa mendiagnosa COVID-19 dalam tubuh. Proses ini banyak dikenal banyak orang dengan dengan swab test PCR atau tes usap. Pada umumnya swab test PCR ini adalah dengan mengambil sampel dahak Tes usap bisa dilakukan pada hidung, saluran antara hidung dan tenggorokan (nasofaring), atau saluran antara mulut dan tenggorokan (orofaring). Tapi ada juga yang mengambil sampelnya dari darah dan urine.
2. Tak Hanya Corona, Bisa Mendiagnosa Penyakit Lain
Ternyata metode tes PCR ini juga bisa mendiagnosa penyakit lain yang berasal dari virus terntentu. Seperti misalnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Virus Hepatitis C (VHC). Untuk mendiagnosa kedua penyakti tersbut bisa dilakukan dengan cara PCR juga lho!
Cara kerjanya, seperti yang sudah dijelaskan di atas, setelah mendapatkan sampel yang kemudian mendapatkan DNA-nya untuk melakukan amplifikasi DNA dan RNA-nya. Misalnya untuk HIV itu merupakan virus yang digolongkan RNA untuk membuat genomnya.
3. Paling Akurat Dibanding Tes Lainnya
Swab Test PCR ini hasilnya paling akurat dibandingkan dengan tes-tes lainnya. Hal ini karena PCR ini mengambil sampel DNA atau RNA yang kemudian diamplifikasi atau diperbanyak untuk melihat ada atau tidaknya penyakit di dalam tubuh.
4. Hasilnya Lebih Lambat dari Tes Lainnya
Seperti yang udah dijelaskan di poin sebelumnya, tes PCR ini adalah paling akurat dibanding dengan tes-tes lainnya untuk mendiagnosa penyakit. Oleh karena itu, untuk mengetahui hasil diagnosanya pun lebih lama dibanding tes-tes lainnya. Paling cepat hasil dari tes PCR ini kelur dalam waktu 2 atau 3 hari. Cukup lama kan, tapi hasilnya 90 akurat!
5. Digunakan untuk Dokumen Perjalanan
Di masa pandemi seperti saat ini, hasil tes PCR ini banyak digunakan untuk berbagai macam kepentingan. Salah satunya adalah untuk dokumen perjalanan. Meski banyak orang menggunakan tes lainnya seperti swab antigen atau rapid test, PCR juga bisa digunakan untuk dokumen perjalanan, dan membuktikan calon penumpang bebas dari penyakit khususnya COVID-19.
Demikian 5 fakta tentang teknologi PCR yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk dunia kesehatan.

Post a Comment